JAKARTA – Ketua DPD Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengungkapkan, ada kemungkinan penurunan tarif angkutan umum dilakukan dalam rangka penyesuaian harga baru BBM yang berlaku sejak Selasa lalu. Penurunan tarif diperkirakan hanya berlaku untuk angkutan umum yang menggunakan BBM jenis solar. Adapun penurunan tarif dipastikan tidak berlaku pada angkutan yang menggunakan BBM premium, seperti taksi dan mikrolet.

“Harga premium kan turun Rp 350, sulit memengaruhi penurunan tarif. Kalau solar turun Rp 750, itu masih bisa. Jadi, yang mungkin turun itu tarif bus kota dan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi),” kata Shafruhan saat dihubungi Kompas.com, Jumat (8/1/2016). Shafruhan menjelaskan, awalnya, pihak Organda DKI mau mengusulkan penurunan tarif sekitar tiga persen. Namun, karena pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, menyebutkan bahwa penurunan tarif sebesar lima persen, maka semua daerah wajib mengikuti nilai penurunan itu.

Organda DKI masih membicarakan rencana penurunan tarif bus kota dan AKAP dengan Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta. Menurut Shafruhan, ada beberapa pertimbangan sebelum memutuskan turun atau tidaknya tarif angkutan umum. Dia mengumpamakan, jika tarif Rp 4.000 diturunkan sebesar lima persen, maka yang harus dibayar penumpang adalah Rp 3.800. Pecahan uang nominal ratusan rupiah seperti itu akan menyulitkan saat pembayaran.

Pertimbangan berikutnya, harga suku cadang masih mahal dan kemungkinan harga BBM naik lagi dalam waktu dekat. “Sebenarnya pengusaha angkutan umum dilematis. Kenaikan harga spare parts dari semester awal 2015 sekitar 36 persen. Belum lagi kondisi BBM. Nanti kalau (BBM) naik lagi pas sudahnurunin tarif, kan repot. Ini yang harus dibicarakan lagi supaya masyarakat tidak bingung,” ujar Shafruhan.

Sumber: Kompas.com

Posting Terkait

Tinggalkan Balasan